Perjalanan menuju Bulungan membutuhkan waktu 4 jam. Waktu itu kita berangkat pukul 14.00 naik kapal ferry sampai di Bulungan pukul 18.00. Sesampai Bulungan saya kira sudah di tempat tinggal kakak saya, ternyata masih menginap di rumah kerabatnya. Terasa lelah badan saya, habis terombang ambing oleh kapal ternyata masih ada perjalanan yang harus kita lalui yaitu melalui aliran sungai yang sangat sepi. Esok paginya saya berjalan-jalan di tepi kota Tanjung Selor , memang indah melihat pemandangan sungai yang banyak sekali aktivitas penduduk disana. Ketinting (perahu kecil) kesana kemari ada yang menyebrang, mendayung, dan sebagainya.
Tampilkan postingan dengan label Otobiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otobiografi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Oktober 2014
Otobiografi 2
Setelah lulus SMP tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya, hasil dari beasiswa cuma sampai tingkat SMP saja. Kemudian saya hanya bisa membantu orang tua berkelana di hutan untuk mencari sepikul kayu kering dan dijual ke kota/desa yang dibutuhkan oleh penjual nasi di warung. Sepulang dari hutan saya meneruskan kegiatan dengan membantu bulik yang jualan gabah, yaitu mengantar , mengangkut, menjemur dan membersihkan dsb...
Kalau malamnya saya gunakan untuk ke masjid mengaji belajar Al-Quran dan berdoa untuk memohon kepada Allah agar saya bisa melanjutkan sekolah lagi. Tidak sekolah di SMA bukan berarti harus berhenti belajar. Saya berusaha untuk belajar di Masjid, tidur pun jarang sekali di rumah, selalu di masjid pergi sore pulang pagi. Itu saya alami selama kurang lebih satu tahun.
Mendekati tahun ajaran baru saya mengharapkan ada seorang kakak yang menjadi guru di Kalimantan tepatnya Bulungan .Kakak saya yang pertama memang tidak pernah bertemu, karena dia di ajak paman di Banyuwangi sebab Paman saya tidak memiliki anak , jadi dia diangkat sebagai anak dan disekolahkan di Banyuwangi sampai jenjang SPG. Selama di Banyuwangi saya baru bertemu dengan kaka sulung setelah lulus SMP. Dia pergi merantau ke Samarinda untuk mencari nafkah dan honor di salah satu Sekolah Dasar di Samarinda, kemudian mendaftarkan PNS sebagai guru Sekolah Dasar dan diterima menjadi guru SD Inpres No. 010 di daerah Transmigrasi UPT IV Tanjung Palas Utara , Kabupaten Bulungan.
Mendekati tahun ajaran baru awal Juni 1988, saya mendapat informasi bahwa kakak akan datang dari Kalimantan untuk mengajak saya di sekolahkan di Kalimantan. Betapa senangnya saya bertemu kakak sulung yang sudah lama saya tunggu hampir selama 25 tahun baru ketemu. saya diajak ke Banyuwangi ketika itu, dan tinggal di rumah Paman saya. Paman saya seorang Lurah di Desa Kebondalem Tanjung Rejo RT 29 Banyuwangi. Selama 15 hari saya tinggal di Banyuwangi bersama kakak dan sambil menunggu pembelian tiket kapal laut. Pada tanggal 20 Juni 1988 saya pergi ke Surabaya dan sampai di Surabaya ternyata kapal yang akan dinaiki tak kunjung datang. Seingat saya tiket yang dibeli adalah Kapal Laut Kerinci yang menuju Tarakan dengan harga tiket Rp 44.000,-. Apa yang terjadi ternyata kapalnya sudah berangkat dan ketinggalan, karena kena calo pelabuhan. Terpaksa saya menginap di transisto Surabaya selama semalam. Merasa sedih karena saya bersama lima orang temen dari Banyuwangi juga ada yang lulus SPG tiga orang dan SMA satu norang dan saya lulus SMP sendiri.
Besoknya saya mendapatkan kapal dagang yang diis oleh 100 orang penumpang menuju ke Tarakan, selama tujuh hari tujuh malam.
Namanya saja naik kapal dan bisa terombang ambing di tengah lautan.....
Masya Allah ternyata benar di Laut yang nama "masa lembu" kami terombang ambing ombak yang tingginya sekitar 2 meter, mulai dari sore hingga tengah malam. Jika ombak yang menghantam kapal tadi sebanyak sepuluh kali mungkin sudah terguling kapalnya dan bisa tenggelam , karena ombaknya sangat kuat, dan saya sudah dimakan sama ikan Hiu, untungnya "Tuhan hanya memberi cobaan dengan menggoncang sebanyak 7 kali" jadi kami selamat sampai tempat tujuan. baru kali itu saya muntah-muntah di dalam kapal, namanya baru sekali naik kapal laut.
Sampai di tarakan sekitar jam sepuluh pagi kapal bersandar di dermaga, dan langsung menuju ke kapal kecil menuju Bulungan. Perkiraan saya sudah sampai di tempat ternyata masih 4 jam lagi naik kapal kecil.
Nex on....
Selasa, 30 September 2014
Otobiografi 1 Mastekad
Tekad, Lahir tepatnya di desa Sobrah kecamatan Wungu kabupaten Madiun Jawa Timur tanggal 07 Mei 1971, dari pasangan Bapak Kasmun dan Ibu Misirah. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memiliki banyak pengalaman mulai dari SD hingga sekarang. Anak seorang buruh tani ini mulanya hanya mampu sekolah di tingkat dasar, namun dengan ke-tekad-anya dia mampu mengenyam sampai ke perguruan tinggi negeri di salah satu PTN Unmul Samarinda. Inilah kisah Ca'Te sebutan namanya !!!
Selama enam tahun Ca' Te Sekolah Dasar di Desa Sobrah hingga tamat, dengan prestasinya ca'te mendapat beasiswa SD selama satu tahun, di kala itu tahun 1983. Beasiswa yang diterima hanya Rp 60.000,- . Dengan mengayuh sepedanya menuju ke tempat pengambilan beasiswa sejauh 15 km dari rumahnya. Bersama orang tuanya dia menunggu antrean dengan duduk di pojok kursi yang ada di ruangan itu. Hatinya merasa deg-deg an karena belum pernah berhubungan dengan aparat pemerintah yang memberi beasiswa tersebut. Setelah di panggil oleh pegawai langsung saya menghampiri dan di suruh tanda tangan untuk bukti pengambilan/resi. Uang diserahkan , kemudian pulang bersama orang tua , saya dibonceng di belakang. Sampai di rumah saya merasa bangga karena dengan uang sebanyak itu , harus saya gunakan untuk apa ? Kemudian saya berfikir bahwa saya mendapat beasiswa itu dari sekolah, maka saya memberikan uang itu Rp 15.000,- untuk sekolah, sisanya sama bapak saya dibelikan kambing. Saat itu harga kambing perempuan hanya Rp 30.000,- saja. Kata bapak saya " le wedus iki openono terus nek manak akeh mengko iso dinggo mbayar sekolahmu yo?" jawabku : "inggih pak mengko nek mulih sekolah aku tak angon wedus". Artinya " Nak kambing ini nanti kamu pelihara jika beranak banyak supaya bisa digunakan untuk membayar uang sekolah ". Jawabku : "iya pak nanti habis pulang sekolah biar saya yang menggembala kambing ini ". Saat itu sata kelas 5, sampai kelas enam setahun kemudian kambing saya beranak tiga. Saya senang sekali karena dengan punya kambing saya bisa meneruskan sekolah SMP Negeri Balerejo .
Masuk Sekolah negeri dulu harus tes tulis, dari 15 anak yang ikut tes di sekolah itu hanya 4 anak yang diterima termasuk saya. Saya diterima masuk di kelas 1F dengan jumlah siswanya 30 anak. Waktu itu tidak ada perubahan kelas dari masuk kelas 1 hingga sampai kelas 3. Pertama masuk sekolah kena belajar siang masuk jam 13.00 pulang pukul 18.00. Kemudian naik kelas 2 juga tetap sama kelas 2F, tak ada perubahan kelas. Hingga sampai kelas 3F teman-teman saya sama , ya itu-itu saja. Tapi saya salut dengan teman yang sama ada suatu kekompakan seperti keluarga sendiri, tidak saling berbeda pendapat selalu kompak. Selama belajar di SMP, pekerjaan saya tiap sore hanya mengembala kambing dan mencari rumput. Jika di waktu libur minggu pagi sambil menggembala kambing saya mencari kayu kering dari pohon jati, untuk dijual ke warung nasi paling harga satu pikul cuma Rp 500,-. Dengan memikul beban kurang lebih 50 kg sejauh 3-4 km saya berusaha untuk mendapatkan uang itu. Selama tiga tahun itulah hal yang saya alami demi menuntut ilmu di sekolah menengah pertama. Selama sekolah di SMP tidak ada yang unik-unik, hanya yang saya ingat ketika mengembala kambing sambil membaca buku naik pohon kemudian berbaringan di rumah pohon itulah kesempatan saya untuk belajar. Jika di rumah saya jarang belajar malam karena lampu listrik belum ada , yang ada hanya lampu teplok. Kalau ada PR pulang sekolah cepat dikerjakan. Jarak sekolah - rumah cuma 8 km dengan bersepeda buntut melalui bentangan sawah yang luas tanpa ada rumah kanan dan kiri, sehingga jika terjadi sesuatu kita tidak tahu. Pernah saya ada orang dijambret di dalam perkebunan tebu kemudian orangnya dibunuh sungguh menakutkan bagi anak kecil seperti saya. Juga pernah terlintas di benak saya ada petrus, bagi orang yang melawan pasti mati di bunuh oleh orang tak dikenal.
Mengerikan .......
Selama tiga tahun sekolah di SMP saya hanya bisa menempati peringkat 10 dari jumlah siswa sekitar 180 anak. Setelah lulus saya tidak langsung mendaftarkan ke SMA karena kebutuhan di rumah tidak mencukupi. Orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya ke menengah atas dengan alasan tidak ada biaya. Seorang buruh tani dengan penghasilan tidak tetap apa bisa membiayai anaknya.
next....
Langganan:
Postingan (Atom)
